TENTANG CANDI SUMBER TETEK (CANDI BELAHAN)



RIZKY BLOG. Apa yang muncul di benak Anda saat mendengar nama Candi Sumber Tetek ? Ya, sesuai namanya, di candi ini ada air mancur yang mengalir dari payudara Dewi Laksmi. Datanglah ke Pasuruan, Jawa Timur, untuk melihatnya sendiri !

Baru Coba
 Candi Sumber Tetek (Candi Belahan)

Candi Belahan namanya. Namun candi yang berada di kaki Gunung Penanggungan itu lebih akrab disebut Sumber Tetek. Air yang keluar dari puting patung Dewi Laksmi ini menjadi tumpuan warga Dusun Belahan, Desa Wonosonyo, Gempol, untuk keperluan sehari-hari,

Konon, candi ini merupakan sebuah kolam khusus keluarga kerajaan atau petirtaan di zaman Kerajaan Kahuripan. Di candi ini terdapat dua patung wanita Dewi Sri dan Dewi Laksmi yang tak lain selir dari Raja Airlangga.

Air di candi peninggalan Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Raja Airlangga itu jernih dan konon abadi sepanjang masa. Tak hanya untuk mandi, warga setempat memanfaatkan kolam di candi tersebut untuk  dan mencuci

Jernih dan segarnya air yang bersumber dari Gunung Penanggungan itu dimanfaatkan warga untuk kebutuhan air minum. Di dusun tersebut, air memang susah didapatkan sehingga air Sumber Tetek menjadi tumpuan warga. Air yang keluar dari payudara patung Dewi Laksmi mengalir sepanjang tahun, bahkan di musim kemarau sekalipun.

"Memang benar, di musim kemarau air di sini terus mengalir," ujar Didik, salah satu juru kunci Candi Sumber Tetek kepada detiksurabaya.com, Kamis (29/11/2012). Menurut warga setempat, air Candi Sumber Tetek dipercaya memiliki khasiat tertentu seperti bisa menjadikan awet muda dan menyembuhkan berbagai penyakit.

Baru Coba
Dua arca dewi di Candi Belahan

Di komplek Candi Sumber Tetek ini juga banyak dijumpai peninggalan Kerajaan Kahuripan. Di malam hari-hari tertentu, banyak warga yang melakukan ritual di komplek Candi Sumber Tetek untuk tujuan tertentu.

Kilasan Sejarah.

Alkisah pada tahun 991 M, Raja Bali yaitu Udayana membuat sebuah candi di sebelah barat Gunung Pananggungan, Pasuruan, Jawa Timur. Nama candi itu adalah Petirtaan Jolotundo, dibangun untuk memperingati hari kelahiran anaknya yakni Airlangga.

Nah, pada tahun 1009 M, Airlangga yang sudah dewasa membangun candi yang berdekatan dengan Petirtaan Jolotundo tersebut. Warga setempat menyebutnya Candi Belahan, atau Candi Sumber Tetek. Dinamakan begitu karena terdapat arca Dewi Laksmi (salah satu dari dua arca) yang mengeluarkan air dari payudaranya !

Dewi Laksmi dan Dewi Sri adalah istri Prabu Airlangga. Arca keduanya melambangkan kesuburan. Candi ini sangat sejuk, dengan landskap hijau yang mendominasi pandangan. Sebagian besar candi berukuran sekitar 5x5 m, dibuat dari susunan batu bata merah.

Air dari payudara arca Dewi Laksmi langsung turun ke kolam di bawahnya. Konon, kolam ini adalah tempat mandi para istri dan selir Prabu Airlangga. Bagian puting arca Dewi Laksmi sempat diperbaiki, karena awalnya air yang keluar hanya jatuh di kakinya. Dikhawatirkan hal ini bisa merusak kaki patung, maka pengelola candi berinisiatif untuk memasang pipa di bagian dada tersebut agar airnya langsung meluncur ke kolam.
Description: TENTANG CANDI SUMBER TETEK (CANDI BELAHAN) Rating: 4.5 Reviewer: Aliyafi Rizky - ItemReviewed: TENTANG CANDI SUMBER TETEK (CANDI BELAHAN)


Shares News - 04.51
Read More Add your Comment 0 komentar


MEMBUAT ARTIKEL BLOG YANG BERKUALITAS



RIZKY BLOG kali ini akan sedikit berbagi tips untuk membuat artikel blog yang berkualitas, tahan lama serta tetap dapat menarik minat pengunjung atau visitor blog dan pada akhirnya akan tetap meningkatkan page-views blog yang kita miliki. Tips ini saya ambil dari sahabat blogger yang memiliki alamat url di http://rizky-44.blogspot.com/2013/08/membuat-artikel-blog-yang-berkualitas.html Terus terang, artikel tersebut patut kita simak serta kita jadikan pegangan selama kita ingin tetap eksis di dunia blogger.

Seringkali ditemui kondisi bahwa beberapa artikel tidak lagi terjamah oleh pengunjung kita, padahal pada saat setelah diposting, artikel tersebut sempat memiliki "booming" yang dahsyat. Faktor-faktornya antara lain adalah artikel tersebut sudah masuk masa kadaluarsa, yaitu kondisi dimana topik pada artikel tersebut tidak lagi memiliki nilai informasi karena sudah banyak orang yang mengetahui dan tidak menjadi "rahasia" lagi.

Bagaikan Mata Air Yang Mengalir Tiada Henti

Nah bagaimana ciri suatu artikel yang ga gampang kadaluarsa itu ? Artikel semacam ini bisa diumpakan sebagai mata air yang airnya gak habis-habis. Artinya, artikel tersebut tetap memiliki nilai ketika dikaitkan dengan kondisi apapun dan kapanpun juga. Sehingga, banyak orang yang membutuhkan dan kadang kembali untuk membaca ulang.

Lalu Bagaimana Biar Airnya Mengalir Terus?

Jika anda ingin membuat artikel yang semacam itu, i've got some tips for you:

1. Tentukan, pikirkan, dan pastikan apakah topik dari artikel yang akan anda tulis merupakan topik yang tidak cepat lekang waktu. Artinya, jika satu atau dua tahun lagi artikel itu dibaca, masih memiliki kesinambungan dengan kondisi yang ada dan tidak berseberangan.

Artikel yang rentan terhadap hal semacam ini adalah artikel berita. Pada suatu waktu, artikel jenis ini bisa menjadi santapan lezat, dengan ratusan hingga ribuan pembaca menyerbu. Namun, setelah tidak mempunyai nilai berita lagi, dia tidak punya arti lagi. Sedangkan suatu artikel yang tidak aktual adalah artikel yang tidak menjawab atau memberi gambaran tentang permasalahan/fenomena yang terjadi di masa kini.

2. Pelajari terus kondisi sekitar, kira-kira fenomena, permasalahan, atau kebutuhan apa saja yang selalu muncul dan terus ada dan (kadang) tidak berakhir.

3. Variatif dalam menyampaikan suatu topik. Artikel tidak hanya bisa disampaikan sebagai suatu informasi objektif, tapi juga bisa memuat opini, kritik, saran, polling, dan lain-lain. Bisa jadi apa yang anda bicarakan adalah sebagai suatu topik berita atau fenomena yang sudah lama, namun ambil sudut pandang tertentu, misalnya opini, kritik, saran atau polling anda terhadap berita/fenomena tersebut. Bentuk artikel seperti ini biasanya bisa bertahan lama.

4. Jaga originalitas artikel anda. Originalitas disini menyangkut dua hal. Yang pertama adalah karya asli seringkali lebih memiliki nilai yang tinggi, karena memiliki ciri khas yang tak dimiliki oleh yang lain. Nah yang kedua, untuk menjaga originalitas itu, hendaknya anda menjaga konten anda dari penduplikasian. Mengapa? Karena jika suatu konten artikel memiliki duplikat, posting anda akan jarang atau bahkan tidak pernah dibaca lagi karena blog lain telah memiliki artikel yang sama persis seperti milik anda. Terlebih lagi jika blog anda kalah dalam pencarian di search engine, maka akan lebih sia-sia lagi.

5. Lakukan update sesegera mungkin apabila ada bagian dari artikel yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan. Misalnya anda membuat suatu review yang menyebutkan harga suatu barang. Lalu, dua bulan kemudian harga tersebut berubah, maka segeralah anda mengupdate informasinya. Tidak perlu menambah posting baru lagi untuk hal yang sama karena justru ini tidak efektif. Mengapa tidak efektif ? Salah satunya karena search engine telah memiliki indeks posting anda yang lama, jika anda membuat posting yang baru lagi, akan butuh waktu lagi untuk search engine meng-crawl entri posting baru anda tersebut.

Demikianlah hal-hal yang perlu disampaikan tentang membuat artikel blog yang berkualitas, semoga bermanfaat.
Description: MEMBUAT ARTIKEL BLOG YANG BERKUALITAS Rating: 4.5 Reviewer: Aliyafi Rizky - ItemReviewed: MEMBUAT ARTIKEL BLOG YANG BERKUALITAS


Shares News - 03.44
Read More Add your Comment 0 komentar


TENTANG DAN SEPUTAR SITUS CANDI SUKUH



RIZKY BLOG, kali ini akan sedikit membahas perihal Candi Sukuh, candi peninggalan kerajaan Majapahit yang pernah jaya dan menguasai seluruh wilayah Nusantara ini.

Lokasi candi
Lokasi Situs Candi Sukuh terletak di lereng Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat. Candi ini terletak di Dukuh Berjo, Desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.

Baru Coba


Struktur bangunan candi
Bangunan candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan yang mencolok pada para pengunjung. Kesan yang didapatkan dari candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah lainnya yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bentuk bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur ini juga mengingatkan para pengunjung akan bentuk-bentuk piramida di Mesir.

Kesan kesederhanaan ini menarik perhatian arkeolog termashyur Belanda, W.F. Stutterheim, pada tahun 1930. Ia mencoba menjelaskannya dengan memberikan tiga argumen. Pertama, kemungkinan pemahat Candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton. Kedua candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi. Ketiga, keadaan politik kala itu dengan menjelang keruntuhannya Majapahit, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah.

Para pengunjung yang memasuki pintu utama lalu memasuki gapura terbesar akan melihat bentuk arsitektur khas bahwa ini tidak disusun tegak lurus namun agak miring, berbentuk trapesium dengan atap di atasnya. Batu-batuan di candi ini berwarna agak kemerahan, sebab batu-batu yang dipakai adalah jenis andesit.

Teras pertama candi
Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah sangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi.

Teras kedua candi
Gapura pada teras kedua sudah rusak. Di kanan dan kiri gapura yang biasanya terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, didapati pula, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir duapuluh tahun dengan gapura di teras pertama.

Teras ketiga candi
Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.

Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang.

Kemudian pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian relief-relief yang merupakan mitologi utama Candi Sukuh dan telah diidentifikasi sebagai relief cerita Kidung Sudamala. Urutan reliefnya adalah sebagai berikut.

Relief pertama
Di bagian kiri dilukiskan sang Sahadewa atau Sadewa, saudara kembar Nakula dan merupakan yang termuda dari para Pandawa Lima. Kedua-duanya adalah putra Prabu Pandu dari Dewi Madrim, istrinya yang kedua. Madrim meninggal dunia ketika Nakula dan Sadewa masih kecil dan keduanya diasuh oleh Dewi Kunti, istri utama Pandu. Dewi Kunti lalu mengasuh mereka bersama ketiga anaknya dari Pandu: Yudhistira, Bima dan Arjuna. Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok dan diikuti oleh seorang punakawan atau pengiring. Berhadapan dengan Sadewa terlihatlah seorang tokoh wanita yaitu Dewi Durga yang juga disertai seorang punakawan.

Relief kedua
Pada relief kedua ini dipahat gambar Dewi Durga yang telah berubah menjadi seorang raksasi (raksasa wanita) yang berwajah mengerikan. Dua orang raksasa mengerikan; Kalantaka dan Kalañjaya menyertai Batari Durga yang sedang murka dan mengancam akan membunuh Sadewa. Kalantaka dan Kalañjaya adalah jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati Dewa sehingga harus terlahir sebagai raksasa berwajah buruk. Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam dibunuh dengan pedang karena tidak mau membebaskan Durga. Di belakangnya terlihat antara lain ada Semar. Terlihat wujud hantu yang melayang-layang dan di atas pohon sebelah kanan ada dua ekor burung hantu. Lukisan mengerikan ini kelihatannya ini merupakan lukisan di hutan Setra Gandamayu (Gandamayit) tempat pembuangan para dewa yang diusir dari sorga karena pelanggaran. 

Baru Coba

Relief ketiga
Pada bagian ini digambarkan bagaimana Sadewa bersama punakawannya, Semar berhadapan dengan pertapa buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas. Sadewa akan menyembuhkannya dari kebutaannya.

Relief keempat
Relief yang menggambarkan ketika Dewi Uma (Durga setelah diruwat Sadewa) berdiri di atas Padmasana. Sadewa beserta panakawan menghaturkan sembah pada sang Dewi Uma.

Relief kelima
Lukisan ini merupakan adegan adu kekuatan antara Bima dan kedua raksasa Kalantaka dan Kalañjaya. Bima dengan kekuatannya yang luar biasa sedang mengangkat kedua raksasa tersebut untuk dibunuh dengan kuku pañcanakanya.

Patung-patung sang Garuda
Lalu pada bagian kanan terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti.

Baru Coba

Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian amerta tersebut di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari tirta amerta.

Beberapa bangunan dan patung lainnya
Selain candi utama dan patung-patung kura-kura, garuda serta relief-relief, masih ditemukan pula beberapa patung hewan berbentuk celeng (babi hutan) dan gajah berpelana. Pada zaman dahulu para ksatria dan kaum bangsawan berwahana gajah.

Lalu ada pula bangunan berelief tapal kuda dengan dua sosok manusia di dalamnya, di sebelah kira dan kanan yang berhadapan satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa relief ini melambangkan rahim seorang wanita dan sosok sebelah kiri melambangkan kejahatan dan sosok sebelah kanan melambangkan kebajikan. Namun hal ini belum begitu jelas.

Kemudian ada sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi pewara. Di bagian tengahnya, bangunan ini berlubang dan terdapat patung kecil tanpa kepala. Patung ini oleh beberapa kalangan masih dikeramatkan sebab seringkali diberi sesajian.

Baru Coba
Candi kecil dengan patung tanpa kepala yang dikeramatkan
Description: TENTANG DAN SEPUTAR SITUS CANDI SUKUH Rating: 4.5 Reviewer: Aliyafi Rizky - ItemReviewed: TENTANG DAN SEPUTAR SITUS CANDI SUKUH


Shares News - 03.23
Read More Add your Comment 0 komentar


MERETAS LANGKAH MENUJU CANDI KENDALISODO DI GUNUNG PENANGGUNGAN



Baru CobaRIZKY BLOG. Pawitra, nama kuno  Gunung Penanggungan. Tertulis dalam kitab Tantu Panggelaran dan Negarakrtagama, Wisebagai salah satu gunung suci yang dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa dan arwah leluhur. Di abad 15, muncul upaya Millenarisme : Membangun Candi “Punden Berundak” di gunung-gunung, sebagai upaya mengembalikan kejayaan Majapahit yang  mulai pudar. Dari 80-an candi, ada satu yang istimewa. Mungil, namun dibangun dengan citarasa seni tinggi. Hampir seluruh dinding penuh dengan relief. Lengkap dengan Goa Pertapaan yang di dindingnya juga diukir relief. Itulah Candi Kendalisodo, masterpiece dari percandian di Gunung Penanggungan.


Pukul 07.00, kaki menjejak di kompleks Patirtaan Jalatunda. Matahari mulai naik merambat. Cahayanya menerobos celah-celah pepohonan yang rimbun. Udara segar menyelusup ke pori-pori. Kaki mulai basah oleh embun-embun yang belum kering. Sesuai rencana, hari ini akan menelusuri Bukit Bekel (bukit di bagian barat G. Penanggungan), melacak jejak Candi Kendalisodo.


Berjalan perlahan menyusuri jalanan setapak nan rumpil. Setengah jam kemudian sampai di bekas sungai berbatu yang kering.. Arah kanan ke Puncak gunung. Ke kiri menuju Bukit Bekel. Ambil arah kiri. Baru beberapa langkah, jalur mulai menanjak. Untungnya kanan kiri tumbuhan menghijau. Sehingga perjalanan tidak membosankan. Makin mendekat puncak bukit, jalanan hampir tak terlihat. Tertutup rerimbunan, perdu dan ilalang, yang sangat rapat. Sempat salah jalan.. Untungnya, ada yang melihat ”juru selamat”. Bendera Merah putih berkibar-kibar di atas pohon. Di dekat situlah Candi Kendalisodo bersemayam.

Setelah melawati candi KAMA II akhirnya, perjalanan lebih dari 2 Jam terbayar lunas oleh pemandangan eksotis di depan mata.. Candi Kendalisodo, berdiri tenang bersandar di dinding bukit. Di depannya jurang menganga dengan pohon-pohon besar menutupinya. Di pojok pelataran nampak Goa, di bawah tebing Batu besar. Tak habis pikir. Entah bagaimana dulu Silpin (pembangun candi) menemukan lokasi ideal ini. Membangun candi lengkap dengan goa-nya!

Baru Coba

Candi Kendalisodo dikenal sebagai Kepurbakalaan LXV. Itu adalah nomor urut penemuan candi-candi di Gunung Penanggungan yang totalnya ada 80 candi, yang dicatat oleh Vand Romondt. Candi ini berteras tiga, dengan tiga altar di puncaknya. Di tengah-tengah terdapat tangga naik menuju puncak. Sehingga mirip dengan punden berundak. Istimewanya, di dinding-dinding candi penuh dengan relief. Menurut Dr. Aris Munandar, reliefnya termasuk Relief Cerita Panji.. Reliefnya dipahat tipis-tipis sehingga rentan terhadap perubahan cuaca. Namun bahaya yang paling mengancam adalah MALING !!!! Ada bagian relief yang hilang, sengaja dicongkel !!!!

Baru Coba

Arca Dwarapala sebagai penjaga di depan tangga dipindahkan dan menyatu dengan sudut pipi tangga. Pilihan tempat itu tanpa merubah fungsi Arca Dwarapala sebagai penjaga candi, yang biasanya ditempatkan di depan tangga naik. Ini semata-mata karena keterbatasan lahan yang sempit dan berhadapan dengan jurang. Kreatifitas dan pemikiran yang luar biasa dari para silpin.


Goa Pertapaan menambah nilai lebih bagi Candi Kendalisodo ini. Keberadaannya mampu menyatukan keinginan pembangun candi yang mempercayai gunung sebagai tempat bersemayam roh leluhur dengan keinginan untuk mengasingkan diri. Bertapa untuk mencari kekuatan lahir batin guna mengembalikan kejayaan.
Tak heran di dalam goa dipahatkan Relief Mintaraga dan Nawaruci, yang lagi-lagi juga sudah hilang digasak maling.. Maling lagi.. maling lagi ! Untuk masuk goa, harus sdikit memiringkan badan. Di dalam ada sedikit ruang cukup untuk dua orang.
Description: MERETAS LANGKAH MENUJU CANDI KENDALISODO DI GUNUNG PENANGGUNGAN Rating: 4.5 Reviewer: Aliyafi Rizky - ItemReviewed: MERETAS LANGKAH MENUJU CANDI KENDALISODO DI GUNUNG PENANGGUNGAN


Shares News - 03.21
Read More Add your Comment 0 komentar


 

About Me

Aliyafi Rizky
Lihat profil lengkapku

© 2010 Blog's Rizky All Rights Reserved Thesis WordPress Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors.info

Social Monkee